Awalil Rizky, Dari Penjual Telur Ayam Jadi Tokoh Ekonom Indonesia


KASATMATA.COM – Awalil Rizky merupakan sosok orang yang dipercaya masuk dalam Tim Trasisi Ekonomi Presiden Joko Widodo pada periode pertama kepemimpinannya.


Setelah lepas dari tim, ia tetap fokus pada pengkajian ekonomi sehingga dikenal sebagai pembelajar ekonomi. Bahkan ia mendapatkan julukan sebagai ekonom jalanan.


Barangkali sebutan ekonom jalanan disematkan karena ia sempat kuliah di kampug Universitas Gadjah Mada namun tidak meluluskan diri.


Meski demikian Awalil, adalah sosok aktivis mahasiswa yang disegani di Jogja. Bahkan ia berani menikah saat menjadi mahasiswa begitu juga istinya, menikah pada 9 Februari 1992 di Jakarta.


Sebulan kemudian, Awalil memutuskan menyewa rumah di suatu dusun daerah Sewon, Bantul. Jauh jika dilihat dari lokasi kampus UGM. Tidak terbilang jauh, namun juga tak dekat dengan wilayah perkotaan Jogja.


Adapun pengalaman mengeluti bidang ekonomi, bagi Awalil Rizky tidak dapat lepas dengan pengalamannya berjualan telur.


“Dari hasil pengamatan dan perbincangan seminggu, aku memutuskan memulai usaha menjadi penjual telur ayam ras. Membeli dari peternak kecil di bantul yang berjarak 10 km dari kontrakan. Menjualnya di pasar pagi giwangan jogja yang berjarak sekitar 20 km dari lokasi pembelian tadi,” terang Awalil.


Lebih lanjut Awalil mengatakan sarana yang kupakai pada hari pertama adalah sepeda onthel dengan keronjot (keranjang besar) diboncengannya.


“Sepeda dibeli dari pasar sepeda bekas daerah Pojok Beteng Kulon, beberapa hari sebelumnya. Keronjot diperoleh dari pasar kota Gede Jogjakarta. Sarana demikian kupelajari dari mengamati beberapa pedagang telur,” imbuhnya.


Ia berangkat jam 03.30, diiringi senyum dan doa isteri sampai pekarangan rumah kontrakan yang cukup luas.


Setengah jam kemudian, mampir sholat subuh di masjid agung Bantul. Kemudian lanjut ke lokasi peternak yang berjarak sekitar 3 km dari masjid.


Dua hari sebelumnya sudah disepakati bahwa Awalil mulai membeli telur dari si peternak, dengan harga menyesuaikan pasarannya.


“Tidak hanya aku, sudah beberapa pedagang yang biasa membeli di situ. Sebenarnya, terbilang peternak kecil saja, dan kebetulan juga seorang guru SD,” ujarnya.


Awalil menuturkan kami bertransaksi, harus bayar tunai karena pertama kali mengambil di situ. Aku dibantu memuat telur ke keronjot, karena belum biasa. Ternyata butuh penataan tertentu, agar tak mudah pecah selama perjalanan.


“Semula aku meminta diisi penuh yang berarti sekitar 100 kg. Peternak menanyakan apakah aku sudah pernah membawa telur bersepeda dengan keronjot. Ketika kujawab belum pernah, dia minta aku hanya mengisi 70 kg saja. Diberitahu bahwa tidak mudah mengendarainya nanti,” jelasnya.


Ketika belum dijalankan dan hanya dipegangi, sepertinya semua akan berjalan baik saja. Tatkala ia mau menaiki sepeda berkeronjot dengan muatan telur 70 kg itu, ban depan sepeda selalu terangkat.


Berkali-kali ia mencoba, itu terus terjadi. Awalil menjauh dari lokasi peternak dengan hanya menuntun sepeda. Sungkan kepada si peternak yang coba membantu padahal dia mesti melayani pedagang lainnya.


Semua doa dan dzikir yang ia ingat dan dibaca, sambil berkeringat dingin dan keringat panas. Entah bagaimana berhasil juga ia mengendarai sepeda itu.


“Perjuangan belum selesai, karena di setiap lampu merah atau ada rintangan kendaraan lain, memaksaku berhenti. Mulai dari awal lagi mencoba mengendarainya,” ujarnya.


Jarak 20 km ke pasar pagi ditempuh dalam waktu hampir tiga jam. Dua kali dari yang dibutuhkan olehnya nanti ketika terbiasa. Jadilah hari pertama jualan ini relatif kesiangan. Beruntung pasaran lagi ramai, bisa habis juga akhirnya.


Menurut Awalil kejadian itu mempengaruhi banyak sikap dan pikiran di kemudian hari.


“Aku sering kritis atas keadilan ekonomi. Cukup baperan jika ada yang asal berpendapat (tanpa spesifikasi kasus) bahwa orang-orang itu dibayar murah karena tidak memiliki keterampilan, atau karena malas. Berlalu lintas pun di jogja dahulu, aku mengutamakan para pengendara sepeda berkeronjot itu, yang dagangannya macam-macam,” jelasnya.


Pengalaman berdagang hari-hari berikutnya mengajarkan satu hal penting lagi. Bahwa pekerjaan para usaha mikro itu memiliki tingkat risiko yang luar biasa besar, mudah rugi karena berbagai sebab yang terduga.


“Untuk bisa bertahan saja, dibutuhkan sikap mental yang kuat. Lebih tepat jika disebut bermental hebat,” tegasnya.


Awalil kini lebih menekuni pekerjaan sebagai ekonom jalanan, maka pandangannya jelas dan tegas. Para pelaku usaha mikro itu pada umumnya rajin, terampil, dan bermental bagus.


“Jika hingga kini masih saja “dibayar” murah oleh sistem perekonomian kita, maka ada yang tidak benar dalam sistem ini. Ada eksploitasi, dan ada penindasan,” kata Awalil.


Awalil menyampaikan kewajiban berjuang untuk memperbaikinya ada pada kita semua. Kita yang peduli dan berharap tegaknya keadilan ekonomi di bumi tercinta ini.


“Kita yang masih yakin pada cita-cita kemerdekaan untuk mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Awalil Rizky.***